cerita

Blog EntryHAMPIR - fur Luna Daeng Sugi'Dec 3, '07 1:01 PM
for everyone

HAMPIR

: Luna Dg Sugi

 

diantara larik-larik sajak

engkau menyusup sayup

dalam lantunan duka tanah kita

ada gigil ngilu pada anyaman langkahmu

membentuk jejak di desir pasir tak habis-habis

 

o, perempuan yang menyunggi duka pulau-pulau

berjalan tertatih menuju matahari

masih setiakah engkau pada baris sajak

yang tak henti menggurat air mata kita

pada selasar gelombang?

 

diantara larik-larik sajak

kita adalah samudera kesedihan, sugi’

karena tiap tapak ialah hampir

selalu hanya hampir

membentuk jejak di desir pasir

 

lantas,

masih percayakah engkau pada sajak-sajak

yang berbaris nyinyir menuju matahari?

 

 

Jakarta, 27/11/07


Blog EntryTESTIMONI UNTUK INUNGNov 9, '07 10:58 PM
for everyone

Inung...
Aku kembali akan menuliskan catatan-catatan untukmu, setelah "sekian milyun tapak kaki melukis peta pulau-pulau yang telah kita lampaui" -- seperti dahulu, ketika kita masih setia menelusuri kekelaman senja pantai Losari. Aku kembali akan membawamu berenang di lautan kata-kata (untuk mengutip penyair itu), sebisanya, sehingga kita dapat mengenang kembali percintaan kita yang pertama: "sebaris sajak yang tak pernah sanggup kita rampungkan, karena lagu senantiasa begitu sumbang meneriakkan sepi."
Inung ...
Jangan sedih, inilah tanah air. Bersabarlah, karena kita memang ditakdirkan untuk mengalami tanah ini, seperti orang-orang lain juga mengalaminya. Meski kita mungkin terlampau sentimentil sehingga percintaan kita selalu menjelma menjadi rimba keluh kesah. Olehnya, Inung... aku kembali menulis catatan-catatan, untuk mengenang percintaan kita yang pertama....


Blog EntryDua Sajak Cinta (Untuk Lily dan Luna)Sep 1, '07 2:39 PM
for everyone

SELALU *untuk Lily, Tokyo

 

selalu ada puisi untukmu

yang ditulis dari tunas rumpun-rumpun kasih

dan kerinduan tak habis-habis

pada lengkung tak terbatas biru jernih cakrawalamu

 

selalu,

lantaran bulir pasir pammatata

masih berkilau perak memantulkan kangen

dan ombak selat masih setia menjilatinya

sepanjang musim

 

selalu,

sebab engkau adalah mata air

air mata cinta

 

Jkt, 31/08/07

 

EMBUN *untuk Luna, Makassar 

 

seperti kerap engkau tuturkan

nyaris selalu perlahan, nun dahulu

kita tak lebih selembar daun

menunggu basah subuh

 

tetapi mengapa selalu ada sangsi

pada embun yang bakal lenyap

menuju tiada?

padahal sesungguhnya,

dia sekadar menguap ke liang hari

untuk kelak tiba lagi

memberi sejuk di malam-malam kangen

 

jadi, daeng sugi’

tetes itu memberimu denyut

seperti tuturan perlahan, di malam-malam dahulu

saat kita menghitung bulir embun

di telapak sang waktu.

 

percayalah.

 

Jkt, 31/08/07. 12:40

 


Blog EntryMAKALE RANTEPAOAug 31, '07 1:17 AM
for everyone

Makale Rantepao *untuk ustadz Mus, Balikpapan

antara makale rantepao

kubayangkan urat sejarah terbujur beku

mengalirkan dusun-dusun purba,

ke muara jeneberang

 

seperti apa pahit kopi sangalla, cappo’

hingga engkau tak pejam bertahun-tahun

mengintai malam

di kerlip tak ngantuk-ngantuk dzikir dan doa

 

sementara di seberang sana,

di lipatan waktu tak terbayangkan

sebaris sajak sesungguhnya telah rampung ditiupkan

ke buhul denyut tanda lahirmu  

jauh sebelum makna muncul di fajar hari

 

antara makale rantepao, cappo’

kubayangkan urat sejarah terbujur beku

mengering dan berhenti di dusun-dusun purba

mengirim bonga di layar sandeq

ke muara jeneberang

 

 

jkt. 31 Agustus 2007 / 1:41


Blog EntrySKETSA SKETSA KENANGANAug 26, '07 12:38 PM
for everyone

“maaf, saya selalu salah alamat, karena sesungguhnya saya tak tahu di mana letak harapan.”

di manakah tempat tertinggi di Jakarta? kamu tahu, dan kamu berjanji, suatu tempo kita akan ke sana.

katamu, ada sebuah bangunan di Klender, sebuah supermarket yang telah hangus bersama orang-orang, saat reformasi berlangsung.

di sana, kita tidak hanya akan menyaksikan Jakarta, tapi juga Indonesia.

====

IMEL NYASAR

 

seperti yang sudah-sudah, engkau selalu ingin mengubur kenangan. padahal, engkau paham persis, dialah satu-satunya yang mengabadikan masa kanak kita, juga kenaifan remaja kita, nun dahulu.

suatu saat engkau mungkin akan berhasil, tetapi alangkah janggal hidup tanpa kenangan, kubayangkan engkau akan terseok, dari sunyi ke sunyi, dalam amarah tersendat, terus menerus bertanya diri akan ke manakah.

seperti yang sudah-sudah, engkau masih akan di sini, di antara ada dan tiadamu

padahal aku tahu persis, engkau, seperti kata penyair itu, bukan masa depan

===

di kauman

orang memasang janur

dalam cuaca panas

juga bendera partai

yang tak henti membawa wabah

masihkah engkau berdzikir?

===

 

jogja,

masihkah engkau di sana

seperti nun dahulu

saat jejak selalu sirna dalam birahi

hanyut di kasur kamar-kamar kos?

===


Blog EntrySKETSA SKETSA SEMESTER SATUAug 11, '07 12:05 AM
for everyone

I

kita telah memasuki rimba yang amat asing, sebuah wilayah luas yang diturunkan dari kemarahan. dan engkau, wahai sang keangkuhan, masihkah akan melanjutkan perjalanan?

seperti yang kerap engkau tuturkan pada malam-malam sejuk hangat, dahulu, kita memang takkan pernah sanggup melipat jarak, namun senantiasa bisa berhenti. diam.

olehnya, mari. agar kita dapat menarik napas sebagai sediakala

Jkt, 06/04/07

 

II

ada derap bergegas dalam sesak rongga benak // seperti mengabarkan cemas tak habis-habis

seperti sepasukan penyerbu dengan kaki-kaki kuda // mencipta gumpalan debu, membubung cendawan ke sunyi langit // di jauhan

dalam riuh gelisah // pertanyaan tak lagi penting // kecuali ketika menyebut: //

"pada wilayah mana ajal terletak, aku selalu ingin mendahului menjemputnya //

derap tak habis-habis dan kepulan debu menuju sunyi // adakah engkau adalah jawaban?

Jkt, 22/04/07

 

III

engkau telah menanam begitu banyak prasangka // di padang gersang kesunyianku // seperti tak pernah yakin // kalau bakal tumbuh tunas cahaya // yang akan menyepuh cinta yang kupendam bertahun-tahun, kelak kemudian

tetapi tak apa -- kita memang tak lebih petani penggarap rasa benci // di balik kekal keindahan ketulusan // karena kita angin yang tak habis mencari arah // bagi kesia-siaan dari hidup

tak apa -- sebab saat rimbun prasangka yang engkau tanam berbuah badai // keindahan tak lagi kekal // karena yakin, kita telah menjadi tiada.

Jkt, 27/04/07

IV

seperti arus angin yang tak terbendung, sunyi menderas mengalirkan ngilu, pada akar-akar kesadaran. adakah engkau masih di sana, kekasih?

ini mungkin kealpaan tak terduga, saat waktu menggelinding menggulung layar hari, tetapi cinta memang selalu lupa pada pesan pertama, dari bintik airmata yang terbit pada masa lalu. adakah engkau mendengarku, kekasih?

kita ternyata senantiasa dipisahkan sunyi.

Jkt, 03/08/07

 

 


Blog EntryTAHTA TERAPUNG (final)Jun 30, '07 2:23 PM
for everyone

(1)

Ledakan bom.

Dan seorang perempuan terpental ke lantai.

Pingsan

Dia pingsan diantara puing-puing.

Asap  memenuhi udara

suara bising kepanikan

teriakan dan erangan

lalu sirine.

 

(2)

 dari keporakporandaan itu, seorang perempuan bangkit.

seperti mengigau, menyelesaikan kalimat terpotong

Ketika engkau menyatukan diri dengan Tuhan, engkau menjelma menjadi seseorang yang tanpa jenis kelamin.

(3)

cahaya terang

dengan anggun, perempuan itu berdandan.

sambil seperti bergumam…

sambil seperti menyuarakan kata hatinya.

sebuah narasi.

Engkau tak akan pernah sanggup mengalahkan kelaminmu. Bahwa pernah suatu waktu engkau sanggup mengajaknya berpuasa – seperti orang-orang yang menahan lapar dan dahaga di siang hari, semua semata karena kamu takut penyakit kelamin. Ketakutan yang wajar dan abadi yang muncul nun jauh dahulu dari seorang pemula. Atau karena kejenuhan. Sebab pada saat seperti itu, kelaminmu tak akan berpelicin, kering dan keset dengan sedikit gelambir menjijikkan dan rambut bergelombang rimbun seakan semayam ular-ular sanca.

 

Lantas mengapa engkau begitu takut kalau orang menyebut-nyebut Tuhan? Atas dasar itukah sampai engkau menjadi pemuja sanggama bertahun-tahun? Padahal setiap usai, bahkan ditempat yang tak direncanakan sekalipun, kamu selalu berucap “puji tuhan atas kenikmatan ini”. Padahal setiap engkau mengusap licin dan hangat sperma di perutmu engkau selalu membayangkan masjid-masjid  tua di kampung-kampung dalam sapuan temaram senjahari, dan merasakan kembali sensasi becek pada kaki telanjangmu yang berlarian menenteng mukena dan kitab bacaan. Mengapa?

 

Tetapi “mengapa” tak lagi penting saat ini. Yang engkau perlukan adalah disain apik tatakrama untuk pertukaran perhatian dan itupun sudah diatur agenmu yang kebetulan laki-laki pembaca majalah Men’s Health. Bahkan pada momen terakhir sebelum bom menghancurkan beranda dan coffee shop hotel itu, pesona apik yang tertata itu masih sanggup menebar ke seantero ruangan memperindah busy lunch para pemburu. Engkau memang sedang mengintai mangsa. Meski kemudian, seusai emergency room rumah sakit dan konsultasi tergesa untuk pasca trauma, engkau membaca bahwa Mr. X partner makan siangmu saat itu sudah marhum dan milyaran rupiah yang dijanjikan harus ditelisik dari awal lagi.

 

Tetapi ini memang urusan kelamin, bukan? Jadi tidak ada masalah. “Kehidupan akan terus berlanjut,” ungkapmu diam-diam. Seakan mengukuhkan kebenaran mekanisme pembelahan sel makhluk tingkat rendah dan menyokong postulat Darwin tentang seleksi alam.

(4)

dia sudah hampir rampung.

dia tinggal mengenakan blazer, memilih sepatu 

Tak ada cerita tanpa kisah-kisah kelamin. Bahkan kini, ketika engkau menyadari dan telah mengalami semuanya, orang-orang bahkan telah mengukuhkan jenis yang lain lagi – ada yang menyebutnya jenis kelamin ketiga atau keempat, atau entah. Tetapi itu pun sesuatu yang purba juga, agaknya, sebab engkau pernah membaca dengan takjub Sodom dan Gomorrah. Tidak dari sisi kehancurannya, sebab tak ada sensasi apapun dalam benakmu soal penghancuran dan keruntuhan – bom meledak di hotel itu tak mengejutkanmu, sebenarnya, kepanikanmu hanya kerisauan akan kerusakan wajah dan perlu waktu untuk operasi plastik. Tidak dari sisi penghancuran itu, tapi dari nuansa erotika komune-nya, dimana kelamin menjadi nisbi – bahkan dengan nakal engkau pernah berpikir bahwa Tuhan tidak seharusnya mengutuk kaum itu, bukankah Tuhan juga tak pernah terkategori jelas bagi manusia dalam hal kelamin? Justru ketika Dia adalah sebuah kemutlakan juga dalam tingkatan Maha?

 

Bahkan sebagai periset sangat tekun dari sinkretisme suku-suku asli, untuk romantika pengembaraan dan tentu untuk kesarjanan awalmu, engkau juga berjumpa dengan peniadaan jenis dalam sejumlah ritus di gunung-gunung itu. Dan kamu mabuk karenanya. Bukan mabuk ritus yang senantiasa mengandaikan kesucian dan pencucian jiwa dalam hymne mantra-mantra, melainkan mabuk karena ketakjuban atas peniadaan itu. Peniadaan yang kemudian selalu dipuncaki oleh sanggama tanpa batas jenis.

 

Terbayangkan betapa engkau ekstase meresapkan aroma tanah dan keringat lelaki, berbaur dengan wangi santan dari rambut para perempuan – mereka masih keramas dengan santan dan bawang merah, bukan, seperti di tempat lain mereka menggunakan merang jerami atau lidah buaya?

 

Nah, kisahmu pun demikianlah. Kisah yang mengguratkan ketiadaan batas jenis, ketakterpesonaan pada penghancuran dan keruntuhan, dan keindahan artifisial dari disain pendukung dan pelicin bisnis hiburan -- salon kecantikan, fitness center, cafe dan resto, padang golf, penerbangan kelas satu, electronic mail, telepon tangan, BMW serie-5, dan para sekertaris terlatih tidak semata untuk administrasi tetapi juga rekreasi.

 

Dari sanalah kisah ini bermula.

(5)

sebuah ruang kerja yang amat luas.

perempuan itu duduk dengan tenang, dengan business-style yang elegan, menunjukkan kelasnya sebagai eksekutif papan atas, cantik, cerdas dan berkelas.

dia memang seorang perempuan.

inilah pengakuannya.

                   pada mulanya, saya adalah perempuan

dan memang hanya perempuan, seperti yang lainnya.

ketika saya menyebut kata “perempuan”, saya yakin anda semua akan membayangkan kelamin. membayangkan bagaimana sekiranya saya anda bawa ke kamar tidur dan dengan amat bernafsu anda meniduri saya.

 

mungkin anda akan merasa segan atau sungkan atau enggan karena apa yang saya capai agaknya dapat dianggap sebagai puncak pencapaian seseorang untuk tidak dapat lagi dipandang rendah.

tetapi rasa segan, sungkan dan enggan itu akan berubah menjadi sebuah rasa puas yang lain. coba bayangkan, anda berhasil tidur dengan perempuan yang mengendalikan puluhan milyar rupiah, dengan kecantikan yang tanpa cela, dengan penyerahan yang hanya dapat dibandingkan dengan kepasrahan seorang pengantin baru.

 

imajinasi lelaki anda, imajinasi yang dalam pandangan saya umumnya tumpul, tentu akan sampai ke sana, hanya karena saya menyebut kata : “perempuan”.

 

(6)

cahaya berubah

 

tetapi sudahlah.

saya memang perempuan.

apapun yang anda bayangkan tentang saya, saya hanya ingin menegaskan, bahwa dari ruangan ini, saya mengendalikan ratusan milyar rupiah, jadi bukan hanya puluhan, dan itu artinya, saya adalah pengendali, bahkan kreator atau pencipta dari perubahan dan pertumbuhan kehidupan begitu banyak orang.

 

dengan mengemukakan ini saya sesungguhnya tidak hendak berfilsafat atau menawarkan topik perdebatan. apalagi untuk berbangga diri. atau apapun yang sanggup dilakukan oleh pengidap narsisme tingkat tinggi.

 

saya mengemukakan ini semata ingin menyampaikan, bahwa pencapaian seorang perempuan, pertama-tama tidak ada hubungannya dengan kelamin.

 

dan apa yang mungkin dan sanggup dilakukan oleh seorang perempuan, dalam bidang kehidupan manapun, juga tidak ada hubungannya dengan kelamin.

 

perempuan bukan hanya eva yang merengek meminta belas kasih adam yang entah mengapa, dalam kesan visual senantiasa tampak berlutut takluk di depan keanggunan surgawi, keindahan firdaus dan pesona keabadian itu. bukan. perempuan juga adalah sebuah eksistensi, sesuatu yang hadir dan berarti justru dalam keseluruhannya.

 

perempuan dibedakan dari lelaki memang dari kelaminnya, tetapi ketidakadilan memandang kelaminlah yang membuat perempuan selalu berada pada posisi terendahkan, posisi kedua, posisi terkalahkan. ini bukan kata-kata saya melainkan kata-kata yang saya salin dari sebuah catatan nggak penting yang nyasar ke box-mail saya tadi siang.  

(7)

cahaya beralih

kini tampak lebih remang.

samar-samar terdengar lengkingan tangis bayi.

seperti sebuah isyarat kabar buruk.

perempuan itu seperti berbicara kepada seseorang  

tidak kebetulan kalau saya bernama pertiwi.

saya lahir dari ramuan beragam bahan, sumber dan latar belakang yang dalam beberapa aspeknya sangat bertentangan.

 

meski sejak lahir saya tak mengenal persis siapa orang tua saya yang sebenarnya, orang tua yang saya yakin telah dengan bergegas menyelesaikan sanggama mereka dan tanpa rencana telah membuahkan saya, tetapi hampir dapat dipastikan bahwa saya adalah hasil sempurna dari keindahan sekaligus absurditas cinta mereka.

 

darah yang mengalir di tubuh saya adalah sesuatu yang pasti menitis dari denyut nadi mereka. darah yang hingga saat ini masih sangat sulit  saya lacak garis, persambungan dan ujungnya, lantaran hingga usia sekarang, saya tak pernah mengenal siapa sesungguhnya mereka yang telah saling berbagi kebahagiaan pada suatu tempo dan berhasil menyatukan cinta melalui tubuh mereka.

 

saya bernama pertiwi.

menurut kabar yang dapat saya kumpulkan, saya hadir ke bumi di medan gerilya diiringi desingan peluru dan diantara riuh pidato perlawanan membara-bara – persis ketika ibu saya meregang nyawa dan menumpahkan darah untuk hidup saya. sebagai perempuan ibu saya telah menunaikan tugas paling hakiki yang disodorkan alam, dan mungkin karena itu beliau menolak kefanaan dunia. sesaat setelah saya berdenyut lahir, kata orang-orang, ibu saya segera menyeberang ke negeri tuhan.

 

saat itu tidak ada yang tahu ayah saya sedang berada di belahan bumi yang mana. yang dapat saya bayangkan, bahwa sebagai lelaki penanam benih, beliau adalah sosok yang tak akan peduli sepenuhnya pada pertumbuhan, pada kehidupan, karena kelelakiannya hanya membentangkan kemungkinan pencarian, penjelajahan dan penaklukan, sebuah lanskap yang goyah. beliau, seperti umumnya lelaki, adalah sintesa unik dari rasa ingin tahu dan kerinduan abadi akan rasa aman, dan justru itu dia adalah wujud yang labil berkesinambungan.

terdengar lengkingan tangis bayi 

maaf.

saya istirahat sebentar.

dia meraih gelas di hadapannya dan meneguk air putih dengan bersemangat 

mengingat-ingat asal usul dan kelahiran saya, rupanya menguras tenaga juga.

tidak seperti dia

menunjuk ke salah satu sudut  

dia yang hanya bisa duduk dan diam, terkantuk-kantuk dalam rapat paripurna, justru ketika orang-orang di jalan raya sudah berpuluh tahun antri nasib baik.

dia meneguk sekali lagi

 

(8)

cahaya berubah

kini perempuan itu tampak lebih segar

dia seperti menemukan kembali dirinya 

sebagai pebisnis yang meraih sukses dengan perjuangan dan kerja keras, terus terang saya tidak begitu berminat dengan dunia politik. meski saya akui bahwa siapapun, terutama bila anda bergerak di bidang bisnis, akan mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus memahami gelagat permainan politik, modus-modus operasionalnya, dan tentu saja karakter orang-orangnya.

 

sebagai seorang yang dibesarkan oleh alam, dan terlebih sebagai perempuan, saya adalah bagian dari pelaku sekaligus korban dari proses-proses politik itu.

 

pelaku dan korban sekaligus bermakna bahwa saya adalah bagian yang mau tak mau harus memasukinya, mengenali rimba buasnya; dan seperti saya katakan, meski saya tidak meminatinya. ini semacam paradoks yang tercipta secara natural karena bersangkut paut dengan nama saya.

pertiwi.

 

“masa kanak saya dibungai oleh kobaran api revolusi. saya besar di medan-medan gerilya, dengan sesekali insiden antar paman karena keluguan mengelola pasukan, mereka umumnya alumni pembela tanah air bentukan jepang, bersemangat remaja dan ya…kisah-kisah romantis mereka meski tidak lagi menarik jaman sekarang masih menyisakan lagu-lagu abadi selendang sutra dan sepasang mata bola.”

“pada ulang tahun saya yang keduapuluh seseorang meminang saya dan berjanji untuk menikahi saya secara sah, murni dan konsekwen. sebuah janji yang saya bayangkan akan membawa saya pada kehidupan yang aman, tenteram, damai dan sejahtera. tetapi, seperti kata teman-teman saya, yang terjadi adalah kasus demi kasus kekerasan dalam rumah tangga.”

 

“peristiwa-peristiwa kehidupan saya adalah peristiwa berdarah-darah dengan tata panggung yang apik dimana kesantunan adiluhung, senyuman dan anggukan ramah adalah tandanya.

saya pemain depan sekaligus belakang panggung, dan saya tahu persis bagaimana sejarah ditulis dengan airmata, bagaimana seseorang dikukuhkan menjadi penguasa di atas genangan darah jutaan orang untuk kemudian menciptakan pembasmian, intimidasi, pengasingan dengan estetika yang makin tertata apik dari waktu ke waktu.”

 

“saya mencatat, bahwa dari waktu ke waktu pertumbuhan saya sebagai seorang yang bernama pertiwi adalah pertumbuhan yang dimungkinkan oleh permainan berbahaya, permainan laten berkesimabungan, di bawah slogan-slogan kemanusiaan.  

 

“seperti sudah saya katakan, saya dilahirkan sebagai sintesa beragam karakter, dan beragam garis darah, sehingga apa yang tercermin dalam kepribadian saya senantiasa guyah, bahkan dapat dikatakan senantiasa berada dalam proses pembentukan.

saya hanya sebuah plat-form karakter  dimana waktu dan momentumlah yang kemudian membentuk saya.

ada juga yang secara ideal menyebut saya adalah hasil pergumulan pikiran-pikiran murni, tetapi saya selalu menyangsikannya, karena manusia dan kehidupannya bukan semata pikiran, bukan?

yang pasti, saya, terus terang, bukan apa yang anda lihat saat ini. saya hari ini adalah proses, dan secara agak semberono saya dapat mengatakan bahwa saya masih bermula. masih bermula.”

 

“dalam perjalanan hidup saya, seperti yang telah anda saksikan sekilas lintas, saya tak lain adalah tegangan abadi dari kesulitan hidup sehari-hari yang berhadap-hadapan dengan impian-impian ideal dunia.”

 

“karenanya, meski dengan rasa miris yang dalam, saya dengan bangga harus menyatakan kepada anda bahwa sebagai pertiwi, saya masih ada di sini, berdiri di sini, jadi pandu, untuk mewadahi kehidupan begitu banyak orang dalam begitu panjang masa yang harus dilalui.”

 

“dan terusterang, meski saya juga bisa merasa amat perih terinjak dan terbelenggu, saya adalah saya yang kini berada di hadapan anda sekalian.  sekali lagi saya adalah pertiwi.”

cahaya berubah

dan setelah sekian kali huru hara, setelah sekian lama berada dalam kerangkeng dan belenggu, kini, saya dapat sedikit menghirup kembali kebebasan itu, menghirup kemerdekaan yang paling sanggup ditawarkan oleh dunia dan kehidupan, hanya karena saya sudah terbebas dari tidak saja beban finansial, melainkan juga beban-beban duniawi lainnya, karena saya hidup melajang dan menjadi pengendali bisnis bernilai trilyunan rupiah.

 

dan seperti perempuan pada umumnya, saya adalah gambar nyata dari perjuangan, kerja keras, perlawanan, dan sintesa dari sejumlah anasir-anasir yang menggerakkan bisnis global, mulai dari filsafat, agama, spiritualitas, teknologi, kemanusiaan, sport, training dan seterusnya….

 

lihatlah saya… 

musik berbunyi

cahaya berubah drastis

perempuan itu menari

menari dengan bahagia

dia seperti bidadari yang baru lahir

memancarkan cahaya kemana-mana

kehidupan seolah baru bermula

(musik berbunyi, dan dia seperti melagukan dolanan kanak-kanak)

saya memulai karir sebagai seorang sales promotion girl pada sebuah mall dan setiap hari menjajakan senyum menawarkan minyak wangi. parfum.

ya, parfum. Parfum dengan jenis kelamin yang tertera dengan jelas pada kemasannya: for men, for woman, unisex.

parfum yang diciptakan mengikuti stratifikasi sosial melalui mereknya. dan karena itu akan menandai kelas sosial pemakainya dari aroma yang diuarkannya.

saya sangat paham kalau aroma bulgari for men, akan berbeda dengan bulgari for woman, tetapi keduanya berada pada stratifikasi sosial yang sama. saya juga paham kalau seseorang melintas dengan aroma CK, dengan tingkat ketajaman aroma yang tinggi, maka parfum yang digunakan orang tersebut adalah parfum palsu. seperti yang dijajakan sembunyi-sembunyi di bandara. dengan begitu saya bisa menebak kelas sosialnya – bisa jadi dia adalah karyawan baru pada sebuah perusahaan tertentu dan baru paham bahwa wangi tubuh sangat penting di dunia kerja.

sebagai sale promotion girl, setiap hari, setiap keadaan, bahkan setiap momen adalah hal yang berbeda. 

hanya satu hal yang sama di sini, yaitu bahwa saya harus tersenyum, selalu tersenyum. tidak peduli apakah saya sedang datang bulan dan harus menahan perih, atau saya sedang kasmaran dan mengenang percintaan saya yang panas dengan seorang tukang ojek pada malam sebelumnya.

 

ya, senyum. itu pulalah intisari yang saya pelajari dari buku-buku self-manajemen, buku kiat-kiat karir dan marketing yang entah mengapa sangat saya gemari. senyum adalah inti kepribadian yang sangat penting, kalau bukan yang terpenting, karena itu adalah bahan baku utama sekaligus etalase dari karakter.

 

senyum itu pulalah yang membawa perubahan besar dalam hidup saya ketika hinggap di mata seorang lelaki penggemar bulgari-blue for woman. tetapi mengapa dia memilih jenis kelamin lain untuk aroma tubuh? untuk menguatkan rangsangan, tidak hanya untuk indera, tetapi jiwa, katanya. untuk memacu adrenalin, katanya lagi. sebuah argumen yang aneh.

 

tetapi hal itu menjadi tidak aneh, ketika dia, mungkin karena iseng atau serius, meminta saya menjadi sekertaris pribadinya. posisi dan jabatan atau apalah namanya, yang tugas dan fungsinya bisa dipersepsi beraneka, tidak semata urusan kantor dan kesekertarisan, karena kadang-kadang lelaki itu meminta saya untuk menggantikan posisi istrinya di ranjang. dia meminta saya. memohon bahkan, karena saya tidak pernah memberinya kesempatan berdialog apalagi bercengkerama dengan tubuh saya. bukan karena saya sok suci atau ingin menjaga kehormatan atau apapun alasan atas nama kehormatan perempuan. bukan. saya menolak karena saya tidak berselera. dia bukan tipe saya…hahahaha.

 

artinya, saya ingin mengesankan kepada siapapun, terutama bawahan-bawahannya yang lain, mitra bisnisnya, bahkan keluarga bahagianya, bahwa saya bekerja sebagai profesional dan urusan ranjang bukan urusan profesional saya.  pandangan sederhana saya ketika itu ialah bahwa masing-masing bidang profesi memiliki disiplin tersendiri. andaikata lelaki itu pada awalnya meminta saya, sebagai profesional untuk urusan ranjang, misalnya, saya tentu akan berlaku sebagai profesional, sebagai pelayannya di ranjang, itu kalau saya menerimanya. tetapi saya diminta menjadi sekertaris, meski dengan imbuhan kata pribadi, dan saya tahu seperti apa seharusnya seorang sekertaris profesional, maka yang saya jalankan dengan baik ialah hanya tugas-tugas seorang sekertaris.

 

sikap itu pulalah yang menjadi modal utama saya membangun karir dan pencapaian saya. karena setelah beberapa waktu pada posisi saya, dengan ketrampilan yang dengan sadar saya asah dan saya kembangkan, saya kemudian mendapat tawaran yang lebih tinggi di tempat lain, dengan kedudukan yang lain dan bidang tugas yang lain. public relation sebuah perusahaan asing.

 

kepindahan saya bukan tanpa goncangan. lelaki itu bahkan rela menyerahkan sebagian saham perusahaanya kepada saya asal saya tetap menjadi sekertarisnya. saya adalah pembawa hoki, katanya. ini jenis ketololan lelaki yang lain lagi. orang-orang kemudian bergunjing bahwa saya telah menggunakan pesona saya sebagai perempuan untuk memperoleh penawaran seperti itu. tetapi, yakinlah, bahwa pesona perempuan yang menjadi modal sebagian orang dalam karir, meskipun lazim digunakan untuk mencapai sesuatu, tidak akan pernah saya jadikan alat untuk mencapai apa yang saya inginkan. saya adalah pemuja, sekali lagi, pemuja profesionalisme.

 

saya menolaknya. penolakan yang semakin menaikkan harga tawar saya pada tempat yang baru.

 

di tempat saya yang baru itulah saya kemudian menyadari bahwa dunia bisnis, karir dan pencapaian, harus diawali dengan formulasi tujuan yang jelas dengan rincian yang tertulis. sebuah formula bagai kitab doa yang setiap saat harus dilafazkan seiring tarikan napas, sehingga akan mendorong adrenalin kita untuk bekerja mencapainya.

 

dengan posisi baru itu pula saya kemudian leluasa mempelajari manusia, organisasi, masyarakat, pasar dan tentu saja membaca perkembangan diri saya sendiri. saya menjelma menjadi pelahap buku yang rakus, karena dalam tempo singkat saya sudah membaca hampir seluruh best-seller buku-buku self-help yang tersedia di toko buku. ketika kawan-kawan saya sibuk membekali diri dengan hal-hal yang bersangkut paut dengan naluri keperempuanan mereka: mode, mode dan mode, gaya hidup, gaya hidup dan gaya hidup, saya membentuk diri saya dengan melakukan sesuatu yang lain. saya ingin mencapai sesuatu dan karena itu saya harus bekerja, bekerja dan bekerja. dan meskipun klise, setiap saat saya selalu menegaskan kepada diri saya bahwa bekerja adalah ibadah. bekerja dalam arti mengisi lorong gelap ketidaktahuan saya, memberi santapan pada rasa ingin tahu saya, dan merayakan pencapaian saya melalui bacaan. baca, baca dan baca. sama dan setara dengan apa yang dilakukan orang-orang ketika sujud dengan khusyu menghadap ke barat dalam ritual bernama sholat. dari sanalah saya berkenalan dengan begitu banyak pemikiran dan pencapaian puncak perjalanan sejarah bacaan. dari sana pulalah saya kemudian membangun bata demi bata tangga sukses saya, sehingga akhirnya saya tiba pada posisi saya hari ini.

 

maaf… istirahat sejenak.

 

terus terang saya tidak ingin memaparkan detil perjalanan hidup saya karena saya anggap kurang relevan. lagipula saya sangat takut dihinggapi narsisme. tetapi seperti parfum, perjalanan apapun yang anda tempuh anda akan berjumpa dengan kategori-kategori jenis kelamin: for men, for women, unisex. dan semakin tinggi pendakian yang anda capai, kategori itu akan semakin meruncing dan menjadi beban, apalagi ketika anda seorang perempuan.

 

anda akan tiba pada satu momen, dimana narasi anda akan berbentuk pengakuan seperti yang anda dengar pada awal saya tampil di sini dan orang-orang akan beranggapan serampangan bahwa itu adalah suara hati saya, justru ketika saya sudah memperoleh sukses. padahal… may…be yes… may…be… not….

 

jadi sudahlah.

hidup memang seperti parfum dan akan selalu begitu.

for men, for woman, unisex.  

perempuan itu tertawa panjang

seperti menertawai nasibnya yang malang

atau menertawai dirinya sendiri

music berbunyi menderum

cahaya berubah

  

(9)

kehidupan seolah baru bermula.

dan seorang perempuan, pebisnis kelas dunia tampak

terkulai di ruang kerjanya.

sendirian.

seperti kelelahan menanti.

entah apa. 

ini adalah tahta.

sebuah posisi puncak dari sebuah multinational corporation yang memungkinkan siapa saja yang duduk di sini untuk mengendalikan, bahkan sekehendak hatinya, kehidupan orang-orang di luar sana, jutaan orang di luar sana.

ini adalah tahta, dengan mahkota kelamin. sesuatu yang secara sublim merupakan tafsir dari alasan mengapa adam terusir dari sorga. atau, sesaat sebelumnya, tafsir atas keinginan adam untuk menyempurnakan hidup dan eksistensinya di sorga.

 

ini adalah tahta, dan ada juga yang menyebutnya ular, karena adam telah tergoda tidak semata untuk mengisi kekosongan hidupnya sebagai adam, melainkan dengan segala risiko, ingin dibuai lilitan berbisa dalam liukan tak bernama dari hasrat.

ya, mereka menyebutnya ular, karena dia bisa mendesis dalam fantasi seksual yang paling menantang, melata dengan ganas mencari titik pemuasan sebagai wujud ketaksempurnaan dunia.

 

ini adalah tahta, dan ini adalah wujud keperempuanan sejati yang dititiskan sang empunya kehidupan untuk mengemban misi menjadi racun sekaligus penawarnya bagi kehidupan, tetapi sejarah kemudian membelokkannya menjadi sekadar kantung pengembangbiakan, wilayah sunyi dimana kehidupan dimungkinkan hadir.

 

ini adalah tahta terapung, karena hingga kini, ketika saya sudah berada di puncak pencapaian duniawi paling tinggi, saya merasa bahwa saya hanya sendirian, terasing, sunyi, gamang dan nyaris tanpa makna. saya adalah eksistensi yang mengapung, sebuah bahan yang selalu berada pada posisi hampir, selalu hanya hampir.

 

saya telah berjuang bahkan berperang bertahun-tahun mengalahkan kelamin untuk mencapai puncak ini, dan saya sudah ada di sini, tetapi peperangan tersebut adalah peperangan yang tak pernah memberi medali kepada pemenang. karena katanya, pada awal dan pada akhirnya kita tidak dapat mereduksi fungsi sebagai alasan eksistensial kehadiran kita, termasuk kehadiran organ yang menandai sekaligus menjadi pembeda dari jenis dan tubuh kita. hidup memang adalah tubuh dan juga organ.

 

oleh karenanya, tahta ini adalah tahta terapung. sebuah pencapaian yang mengapung di atas bahan baku kelelakian adam, sebuah puncak yang mengapung di atas kerangka rusuk adam, dan tidak memberi tafsir apapun selain menjadi singgasana bagi kekalahan.

 

dari singgasana ini mungkin lahir catatan terpenting yang dapat dibuat umat manusia, termasuk tafsir terbaik bagi eksistensi kelamin dan etalase paling sempurna dari keperempuanan, tetapi dari sini pula, konon menurut suara-suara yang datang dari luar sana, hadir jeritan kepiluan berkepanjangan dari sunyi, neraka kekalahan yang seakan merupakan bagian dari defisini kehidupan. 

cahaya berubah

saya memang perempuan. saya sadar bahwa apapun pencapaian saya, saya tetap seorang perempuan yang hingga hari ini merupakan bagian dari rancang bangun dunia lelaki.

 

maaf, tadi, saya hanya beretorika, sekadar menguarkan darah hitam dalam pikiran saya, sesuatu yang saya serap dalam perjalanan hidup saya.

 

saya mengaku takluk, selalu takluk.

saya mengaku kalah, selalu kalah.

 

dan karena perjalanan ini adalah perjalanan menuju cahaya, maka biarkan kekalahan saya ini menjadi bintik hitam yang akan melengkapi semburat perak yang dialirkannya ke alam raya.

 

tidakkah, ketika engkau menyatukan diri dengan Tuhan, engkau adalah seorang tanpa jenis kelamin? 

telepon bordering lembut

perempuan itu seperti tersadar dari mimpi buruk

 

“hello”

“……”

“segera.”

“……”

“tapi ini bisnis. ini bisnis.”

 

cahaya meredup

lalu sebuah ledakan

seperti pada awal

dan kali ini, perempuan itu tidak bangkit lagi

dia terkapar.

sayup-sayup terdengar kembali narasi, seperti pada bagian awal.

narasi yang perlahan-lahan menghilang.

lalu gelap.

 

Jakarta, 24 Juni 2007


Blog EntryMonolog Tahta Terapung (4)Jun 24, '07 12:48 PM
for everyone

cahaya berubah

kini perempuan itu tampak lebih segar

dia seperti menemukan kembali dirinya

 

sebagai pebisnis yang meraih sukses dengan perjuangan dan kerja keras, terus terang saya tidak begitu berminat dengan dunia politik. meski saya akui bahwa siapapun, terutama bila anda bergerak di bidang bisnis, akan mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus memahami gelagat permainan politik, modus-modus operasionalnya, dan tentu saja karakter orang-orangnya.

 

sebagai seorang yang dibesarkan oleh alam, dan terlebih sebagai perempuan, saya adalah bagian dari pelaku sekaligus korban dari proses-proses politik itu.

 

pelaku dan korban sekaligus bermakna bahwa saya adalah bagian yang mau tak mau harus memasukinya, mengenali rimba buasnya; dan seperti saya katakan, meski saya tidak meminatinya. ini semacam paradoks yang tercipta secara natural karena bersangkut paut dengan nama saya.

pertiwi.

 

“masa kanak saya dibungai oleh kobaran api revolusi. saya besar di medan-medan gerilya, dengan sesekali insiden antar paman karena keluguan mengelola pasukan, mereka umumnya alumni pembela tanah air bentukan jepang, bersemangat remaja dan ya…kisah-kisah romantis mereka meski tidak lagi menarik jaman sekarang masih menyisakan lagu-lagu abadi selendang sutra dan sepasang mata bola.”

“pada ulang tahun saya yang keduapuluh seseorang meminang saya dan berjanji untuk menikahi saya secara sah, murni dan konsekwen. sebuah janji yang saya bayangkan akan membawa saya pada kehidupan yang aman, tenteram, damai dan sejahtera. tetapi, seperti kata teman-teman saya, yang terjadi adalah kasus demi kasus kekerasan dalam rumah tangga.”

 

“peristiwa-peristiwa kehidupan saya adalah peristiwa berdarah-darah dengan tata panggung yang apik dimana kesantunan adiluhung, senyuman dan anggukan ramah adalah tandanya.

saya pemain depan sekaligus belakang panggung, dan saya tahu persis bagaimana sejarah ditulis dengan airmata, bagaimana seseorang dikukuhkan menjadi penguasa di atas genangan darah jutaan orang untuk kemudian menciptakan pembasmian, intimidasi, pengasingan dengan estetika yang makin tertata apik dari waktu ke waktu.”

 

“saya mencatat, bahwa dari waktu ke waktu pertumbuhan saya sebagai seorang yang bernama pertiwi adalah pertumbuhan yang dimungkinkan oleh permainan berbahaya, permainan laten berkesimabungan, di bawah slogan-slogan kemanusiaan.  

 

“seperti sudah saya katakan, saya dilahirkan sebagai sintesa beragam karakter, dan beragam garis darah, sehingga apa yang tercermin dalam kepribadian saya senantiasa guyah, bahkan dapat dikatakan senantiasa berada dalam proses pembentukan.

saya hanya sebuah plat-form karakter  dimana waktu dan momentumlah yang kemudian membentuk saya.

ada juga yang secara ideal menyebut saya adalah hasil pergumulan pikiran-pikiran murni, tetapi saya selalu menyangsikannya, karena manusia dan kehidupannya bukan semata pikiran, bukan?