SELALU *untuk Lily, Tokyo
selalu ada puisi untukmu
yang ditulis dari tunas rumpun-rumpun kasih
dan kerinduan tak habis-habis
pada lengkung tak terbatas biru jernih cakrawalamu
selalu,
lantaran bulir pasir pammatata
masih berkilau perak memantulkan kangen
dan ombak selat masih setia menjilatinya
sepanjang musim
selalu,
sebab engkau adalah mata air
air mata cinta
Jkt, 31/08/07
EMBUN *untuk Luna, Makassar
seperti kerap engkau tuturkan
nyaris selalu perlahan, nun dahulu
kita tak lebih selembar daun
menunggu basah subuh
tetapi mengapa selalu ada sangsi
pada embun yang bakal lenyap
menuju tiada?
padahal sesungguhnya,
dia sekadar menguap ke liang hari
untuk kelak tiba lagi
memberi sejuk di malam-malam kangen
jadi, daeng sugi’
tetes itu memberimu denyut
seperti tuturan perlahan, di malam-malam dahulu
saat kita menghitung bulir embun
di telapak sang waktu.
percayalah.
Jkt, 31/08/07. 12:40