ReviewReviewReviewReviewReviewKEKUASAAN (****)May 21, '07 11:47 PM
for everyone
Category:Other
Di puncak, selain cakrawala keluasan pandang, juga hadir gigil dan kesunyian. Tapi mengapa, para pendaki itu, senantiasa bergairah menuju ke sana? Mengapa, orang-orang bahkan menyediakan hidup dan mati untuk akhirnya tiba kesana?

Kita tak tahu persis, bagaimana napsu kuasa bekerja dalam psikis seorang calon presiden, calon gubernur, calon bupati atau bahkan sekadar calon ketua RT. Tapi hari-hari ini, terutama di dekat-dekat sini, orang berbondong menyatakan dukungan. Dalam lukisan agak karikatural, rombongan para pendukung itu dapat diandaikan sebagai deretan pohon pinus, bongkahan karang dan semak-semak langka di tubir gunung, sementara para kandidat yang tengah mendaki ke puncak itu, berkobar dalam semangat taktik dan strategi, padahal sesungguhnya mereka sedang bertarung memperebutkan sunyi, juga gigil, dalam sebuah arena bernama kebesaran dan keagungan kekuasaan. Ritus-ritus kenegaraan yang selalu menyimpan cerita menarik dalam diskripsi inside-story, bagi para kandidat ini, terkesan merupakan satu-satunya ajang bagi penyempurnaan kemanusiaan, di dalam waktu, di dalam sejarah. Dan justru itu, pendakian harus dimulai, selalu harus dimulai dengan atau tanpa bekal memadai sekalipun.

Ambisi, sesuatu yang kemudian diturunkan menjadi taktik dan strategi, akhirnya menjadi satu-satunya anasir yang berhasil dipertontonkan di depan publik. Tidak lantaran ambisi tak pernah sukses bersanding dengan keikhlasan, misalnya, melainkan karena by design, seorang calon memang mesti memilikinya. No leader without ambition. Ambisi adalah pendorong gerakan sekaligus sumber energi tak habis-habis dalam pendakian menuju puncak. Dan dalam lapangan politik, hal lain boleh menyusul kemudian. Termasuk sejauh mana seorang calon sanggup menangkap nuansa persoalan rakyat dan menjabarkannya dalam visi besar kepemimpinan.

Dalam hal visi, agaknya banyak diantara mereka, para kandidat pujaan kita itu, belum memahami benar alif bengkok substansialnya. Visi dan juga misi, masih berupa formula di atas kertas yang manfaat sekaligus mudharatnya baru berupa slogan untuk menarik minat pemilih, kata yang dijadikan jargon untuk diteriakkan pada masa kampanye. Dia belum merupakan sebuah ‘kristalisasi keringat’ pikiran dan kesadaran – untuk meminjam istilah Tukul Arwana, dari sebuah perjalanan panjang menyerap aspirasi publik, atau penemuan agung bagi jalan untuk sebuah masa depan yang baik, ihwal dimana segenap daya upaya disandarkan – sebuah dasar pemikiran bagi proposal pembangunan dan pertumbuhan yang akan dikerjakan kelak.

Tidak gampang agaknya melacak bagaimana para kandidat mematut diri untuk tiba pada kelayakan personal dan sosial yang dituntut jabatan yang mereka perebutkan. Jabatan Gubernur itu, misalnya. Yang bisa kita baca dan sedikit kita pahami hanya sekadar langkah simplifikasi mereka atas sejumlah besar jawaban bagi kerinduan publik akan ketenteraman, kesejahteraan, keadilan dan kategori besar tuntutan publik lainnya. Hal yang kemudian mereka ekspresikan juga dalam jargon dan slogan yang dapat kita simak melalui talk show, spanduk, sticker, kemudian terlihat pula dalam gambar-gambar wajah mereka di ‘panyingkul’ dalam ukuran yang tak pernah dibayangkan kakek buyut kita dahulu dan juga di public event lainnya. Untuk hal terakhir, kita senantiasa dibanjiri berita temu wicara, reuni-reuni, dialog, seminar, diskusi dan seterusnya.

Dengan “bahan” yang telah tereduksi itu, kita pun kemudian menilai, membanding-banding dan akhirnya harus menjatuhkan pilihan. Dapatkah kita menyebut, bahwa pada akhirnya kita hanya sekadar akan memilih ambisi? Hanya memilih ambisi? Sebuah unsur yang biasanya melekat dalam kepemimpinan, tetapi tak jarang tidak menyertakan ketrampilan, kemampuan, kecocokan dan atribut leadership lainnya? Sadarkah kita, bahwa ketika kita menjatuhkan pilihan, kita sesungguhnya telah dengan sukarela mendudukkan orang yang kita anggap pantas, menghormati dan menghargainya, dan pada akhirnya akan abai akan kepentingan kita? Tidakkah dengan begitu, kita pun telah turut serta dengan sukarela mendorong seseorang untuk sampai pada puncak, pada gigil dan sunyi? Mendorongnya bertanggungjawab atas hidup, nasib dan masa depan kita, sejauh yang sanggup dijabarkan dan dijelaskannya kepada kita? Dan kalau kesanggupan itu tak kunjung muncul, kita pun kemudian ramai-ramai mengecam dan mendorongnya untuk jatuh?

Agak sulit memastikan apa benar kita harus turut bertanggungjawab atas kegagalan seseorang di wilayah sunyi kekuasaan di puncak itu. Soalnya, sejak semula kita hanya sekadar bagian yang telah direduksi menjadi sejumlah persoalan dan agenda, disimplifikasi menjadi angka pendukung dan prosentase kekuatan, diletakkan di wilayah obyek dengan kategori yang amat sederhana, statistik. Selain itu, tidak ada ukuran yang cukup memadai untuk menakar pencapaian kepemimpinan publik yang dapat kita sepakati, seperti ketika kita mengukur kepuasan pelanggan dalam kerangka Customer Relationship Management (CRM), lantaran publik, kita-kita ini, hanya elemen pelengkap penderita yang hadir dalam sepotong kalimat dalam spanduk kampanye : “bersama kita bisa”, “untuk masa depan lebih baik” – kata “bersama” jelas-jelas melibatkan kita secara sepihak, sementara “masa depan lebih baik” siapakah sesungguhnya yang dimaksud dalam jargon demikian? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Kita bisa menolak posisi itu, namun tidak tersedia jawaban memadai mengapa setiap penolakan akan selalu dianggap salah. Negara, produk yang dihasilkan peradaban untuk mengatur kita semua, terlalu rumit untuk bisa menangkap apa sesungguhnya yang berdetak di sanubari kita. Dan mereka yang duduk di puncak kekuasaan negara, termasuk di wilayah propinsi kabupaten kota-nya, mungkin akan terlalu sibuk berurusan dengan dirinya sendiri, bergulat melawan kesunyiannya sendiri, di balik ritus penghormatan dan penghargaan, kehormatan dan kemuliaan yang dengan sukarela telah kita sediakan untuk mereka.

Yang mengkhawatirkan, jangan-jangan memang benar, bahwa mereka mendaki, siap bertarung hidup mati, hanya untuk kuasa itu sendiri. Jangan-jangan, mereka bertarung untuk diri mereka sendiri, lantaran kekuasaan memang sebuah wilayah kesunyian yang mengerikan. Dan kalau memang benar demikian, pemenangnya tentu kuasa itu sendiri berikut segenap gelagat aneh yang diturunkannya. Dan inside story dari istana-istana, seperti yang senantiasa menghipnotis public, akan tetap bernada sama dari waktu ke waktu. ***


Jakarta, 22 Mei 2007


adesiti wrote on May 22, '07
bang jadi ingat salah satu rubrik di integrasi dulu....tajam, akurat dengan analogi yang pas dan menyentil...

hayyyooooo.....katanya mau dibukukan!!! Sini, aku edit-edit......
dekatrumah wrote on May 23, '07
adesiti said
katanya mau dibukukan!!! Sini, aku edit-edit......
tiga draf buku sdh siap, tie...judulnya lucu2
1. Langkah Pertama Reformasi (tulisan2 jaman habibie)
2. Memerintah dengan Lelucon (ini tulisan2 yg tiap minggu titie baca dulu)
3. Tahta Terapung (ini esei panjang tentang kekuasaan)
cuma krn skr repot banget jadi supir taksi, jadi semua tertunda.. mungkin tahun depan sajalah..biar cukup 10 tahun reformasi...
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.