 Di mana posisi penting Amien Rais dalam sejarah Indonesia moderen? Pertanyaan itu tampaknya penting dikemukakan, sebab Amien yang lahir di Solo, 26 April 1944, adalah simpul dari seluruh proses yang kemudian menumbangkan Soeharto, tahun 1988, dan membawa Indonesia memasuki era baru. Tampaknya, Amien bukanlah tokoh yang amat-istimewa bila dilihat dari apa yang terjadi pasca 1988. Dia dapat dikatakan seorang yang hadir pada tempat dan waktu yang tepat dimana gerakan mahasiswa memerlukan tokoh, simbol, untuk menuntaskan gerakan mereka menumbangkan Soeharto. Tetapi kemudian, setelah huru hara usai dan penataan kehidupan berbangsa dan bernegara dimulai, Amien dengan sangat santun hanya memilih menjadi ketua MPR. Mungkin dia hanya ingin menuntaskan atau menjalankan agenda reformasi yang diformulasi oleh gerakan mahasiswa, antara lain : hapus dwifungsi ABRI, sistim multi partai dengan pemilu bebas, dst. Ketika dia kemudian bertarung dalam pemilihan Presiden, dia tidak cukup memperoleh suara signifikan bahkan untuk masuk pada putaran kedua. Dalam berbagai penilaian, Amien memang hanya tokoh reformasi dan berkesempatan mengawalnya beberapa waktu, 5 tahun. Tetapi justru di sanalah sesungguhnya posisi penting Doktor dari Universitas Chicago ini. Sebagai intelektual kampus, Amien juga tidak dapat dipandang memiliki keistimewaan akademis. Tetapi sesungguhnya, dia, tampak dengan sadar menempatkan diri sebagai inspirasi. Dalam sejarah Indonesia moderen, tidak banyak tokoh yang inspiratif. Amien Rais, bagi saya, satu diantara yang tidak banyak itu, meski mungkin Amien setelah jabatan Ketua MPR, tidak lagi berada pada waktu dan momen yang tepat.   | nursamsi wrote on May 23, '07, edited on May 23, '07 cobalah kasih kesempatan sekali saja buat beliau untuk memimpin bangsa ini. Siapa tau di tangan dia segalanya bisa jadi better... |
 | Apapun dan bagaimanapun pak amien adalah sosok yg menjadi idola bagi saya. Membayangkan beliau jd presiden sangat menyenangkan, tapi realitas politik menentukan lain. Budaya politik rakyat indonesia dalam memilih seorang pimpinan bukan berdasarkan kredibilitas tetapi hanya berdasarkan kharisma dan keturunan yg membuat beliau blm bisa diterima jd R1. |
 | Kak Ami, sayang juga Pak Amien tidak jadi R1. Apa iya, kalo misalnya dia yang terpilih -menurut prediksi Kak Ami- negeri ini tidak dihantam bencana bertubi-tubi? Tapi, bukan karena gurah SBY-JK yang tidak bagus kan, sehingga negeri ini dilanda bencana beruntun? Memang, dari dulu negeri kita dah rusak. Bagaimana, Kanda. |
| |