 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Hasymi Ibrahim |
PENYAIR DAN TANDA UNTUK INGATAN
Membaca esai-esai Moch Hasymi (dan juga sejumlah puisi yang diselipkan pada sejumlah esai) yang dirangkum dalam buku Capone van Bugis ini, segera saja mengigatkan saya pada Clive James. James yang lahir di Sydney pada tahun 1939 ini adalah sosok multibakat; penyair, kritikus, dan juga penulis esai. Ia pun baru saja menerbitkan buku penting berjudul Cultural Amnesia: Necessary Memories from History and the Arts (Norton, 2007) sebuah buku yang keras menyorot pentingnya upaya “mengingat” dan nistanya kebiasaan “melupakan”. Memurut James kebiasaan terlalu mudah melupakan adalah cikal bakal langgengnya penindasan (opresi). James juga menegaskan pentingnya peran sejarah dan seni dalam upaya menumbuhkan kebiasaan “mengingat” dan melawan kebiasaan takluk pada upaya “melupakan” itu. Paparan James di atas tentu saja bukan sesuatu yang baru, namun tetap saja sangat relevan hingga kini.
Dalam konteks Indonesia, juga Makassar, Hasymi pada tingkat tertentu telah berupaya sekeras yang ia bisa untuk menjadi salah satu “aktor pengingat”. Ia memakai sejumlah media dalam upaya “mengingatkan” itu; teater, puisi, juga esai. Kerap pula Hasymi mencoba menempatkan diri sebagai komentator politik. Tapi segera terlihat bahwa kekuatannya justru sangat menonjol pada esai-esai yang kental nuansa personalnya (karena sejatinya ia seorang penyair dan aktor), dua pekerjaan berbeda namun keduanya nyaris mutlak mensyaratkan pentingnya kepekaan pada yang rinci, juga pada sesuatu yang mungkin akan langgeng diingat.
Esai yang diberi judul “Surat I”, “Surat II” dan “Surat III” terasa betul mewakili jejolak jiwa banyak anak muda, khususnya mereka yang nun di tahun 1980-an dan 1990-an merasakan kepengapan sebuah rejim tua yang angkuh. Rejim otoriter yang berusaha dengan segenap daya menyumbat segala upaya perlawanan demi memperpanjang umurnya. Dalam “Surat I”, Hasymi secara liris mendedahkan kegelisahannya pada kawan-kawan mahasiswanya, pada bulan-bulan panas menjelang dan sesudah huru-hara kejatuhan Soeharto, Mei 1998. Surat personal itu secara ironis mencoba mengingatkan kawan-kawan mahasiswanya itu bahwa ada yang nyata kurang dari gegap-gempita semangat dan gerakan mahasiswa kala itu. Intuisi kepenyairan dan keaktoran Hasymi mengisyaratkan bahwa gerakan mahasiswa itu, mungkin karena saking bersemangatnya, melupakan bahwa menjatuhkan Soeharto sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu susah (siapapun yang merasakan hiruk-pikuk politik domestik maupun internasional pada bulan Mei 1998 itu, akan merasakan umur rejim berdarah ini akan tumpas), dan karena itu seharusnya melihat lebih jauh ke depan. Membenahi bengkalai yang ditinggalkan Soeharto dan juga membangun mentalitas baru yang lebih dewasa sehingga kesalahan rejim yang lalu itu tak terulang lagi, justru nyaris hilang dari sukma gerakan mahasiswa itu, juga gerakan kalangan intelektual kelas menengah, kala itu.
Esai “Surat II” mencoba menelaah pengalaman, juga ingatan dan refleksi terhadap pengalaman itu, yang lebih jauh ke belakang. Kenangan muram akan Indonesia nun di tahun panas 1996. Tahun yang menjadi titik-balik kejatuhan rejim Soeharto. Esai ini juga kental dengan nuansa catatan harian Hasymi sebagai anak muda, sebagai penyair, sebagai aktor yang mencoba mengatasi ketakutan untuk ikut melawan kepengapan dan kesia-siaan rejim yang kian renta itu. Esai yang diselipi sejumlah puisi ini, sangat kuat mengingatkan kita bahwa di masa lampau yang belum terlalu jauh itu, absurditas kekuasaan dan keangkuhan begitu jelas terlihat. Betapa angkuhnya kekuasaan itu, tetapi juga betapa rapuhnya. Esai ini secara memukau menunjukkan kepiawaian Hasymi bolak-balik mengungkapkan makrokosmos ekonomi-politik Indonesia yang sangat gerah, dan mikrokosmos kegelisahannya sebagai seorang muda yang di satu ketika dimabuk cinta (entah pada seseorang, entah pada entitas bernama Indonesia), namun di ketika yang lain diamuk amarah (entah pada seseorang, entah pada entitas bernama Indonesia).
Esai “Surat II” ini secara liris menggedor ingatan kita pada episode-episode kelam dalam sejarah kita sebagai bangsa. Puisi “Catatan-catatan 1996” yang disisipkan pada esai ini menyeret ingatan kita pada Peristiwa Malari nun di tahun 1974 lampau, pembredelan Majalah Tempo, Editor dan Tabloid Detik pada Maret 1996, juga pada peristiwa penembakan mahasiwa di depan kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada April tahun yang sama, dan tentu saja pada Peristiwa 27 Juli 1996 di Jakarta. Hasymi secara kasar mendedahkan amarah dan ikrarnya untuk ikut melawan sang tiran, namun juga masih sanggup mengirim surat lirih dan menyentuh pada GM (mungkin Goenawan Muhammad, mungkin pula entah siapa);
Maret, 15 Bagi GM
siapakah yang masih setia bernyanyi ‘pelangi alangkah indahmu’ kala siang itu kulihat orang-orang menggerek bendera putih diiringi hymne dari sebuah pemakaman
siapakah yang masih setia bernyanyi ‘pelangi alangkah indahmu’ kala siang itu kulihat sang pelukis agung mengecat langit dengan warna kuning diiringi hymne dari sebuah pemakaman
astaga, siapakah yang masih sangsi bahwa darah kita berwarna merah dan siang itu orang-orang menggerek bendera putih
Secara tak terduga, refleksi pada makrokosmos Indonesia yang pengap itu Hasymi jalin dengan mikrokosmos personalnya yang kala itu (mungkin kebetulan belaka) juga tengah pengap. Maka ia menulis kenangannya pada 31 Desember 1996, masa yang menurutnya merupakan satu babak dalam kehidupan personalnya sebagai seorang pacar, atau apapun namanya, dari seorang yang begitu tulus mencintai.
Mari kita nikmati indahnya keperihan personal itu sekali lagi;
Andaikata
bagi sebuah kenangan
andaikata kita berjumpa kelak kemudian membawa beban tak terkira yang disampirkan harapan pada kemarin dapatkah kita kembali bernyanyi seperti sebuah janji yang bergegas ditepati
mungkin tidak, adinda sebab tak ada keperluan mencatat waktu dengan keperihan, dengan aniaya dengan harapan yang dimungkinkan oleh malam
mungkin tidak, adinda lantaran tak ada yang lebih tepat menggambar duka selain matahari yang pernah kita percaya menghitung kesetiaan
andaikata kelak kemudian itulah saat dimana kita tak lagi maujud
makassar, 3.02.96
juga sajak yang lainnya;
Langkah Terakhir
menyempurnakan malam kubawa keperihan yang engkau pahatkan pada dinding hari kemarin tak ada yang luput, adinda tak ada
lantas semua menyelimuti sehingga pada langkah terakhir kita mesti saling mencederai tanpa perlu menoleh lagi
makassar 3.05.96
atau ...
Cinta Yang Dikuburkan
deras hujan membawa kita ke sebuah supermarket menanggalkan sepatu yang dilengketi lumpur di situ engkau baca sejarah kita juga luka-luka pada jas hujan yang kita kenakan dan waktu seperti berhenti pada ciuman tergesa di depan etalase
kita telah memasuki rimba kartu kredit, dik tersesat bertahun-tahun dan mati tertembak di trotoar jalan-jalan rayal lalu mayat-mayat kita gentayangan dari rak sabun mandi, parfum dan tisu lantas bercermin pada genangan deterjen membopong manekin ke lantai dansa sembari mengunyah kisah-kisah malinkundang dan waktu memang berhenti pada ciuman tergesa depan etalase
karenanya jangan menyesal, dik sebab tak ada sejarah di situ juga payung pada pemakaman kita dan hujan semakin deras menghantam-hantam dari luar
makassar, 12.96
Esai “Surat III” tampaknya menjadi semacam epilog dari surat-surat sebelumnya. Juga sekaligus sebagai tanda, bahwa hidup harus terus berlanjut, di tengah karut marut makrokosmos bernama Indonesia, yang celakanya memiliki daya jangkau yang teramat besar pada mikrokosmos personal kita masing-masing. Entah sengaja, entah kebetulan belaka, dalam esai ini Hasymi selintas bercerita mengenai keterpesonaanya pada penyair dan sastrawan Colombia, Gabriel Garcia Marquez. Juga ketakjubannya pada salah satu masterpeace Marquez, One Hundred Years of Solitude. Di situ Marques secara indah sekaligus pedih berkisah tentang kesendirian, tentang kesepian. Bagi siapapun yang menyempatkan diri membaca karut marut sejarah negeri Marquez itu, akan terasa betapa kewajiban “mengingatkan” untuk melawan “pelupaan” yang dipaksakan oleh sebuah rejim tiranik, entah di Indonsia, entah di Colombia, adalah sesuatu yang universal. Juga betapa peran menjadi aktor yang ikut melawan upaya pelupaan itu mensyaratkan daya tahan menghadapi kesendirian, menghadapi kesepian.
Demikianlah….
Adapaun esai-esai Hasymi lainnya yang terangkum dalam buku ini, yang lebih sebagai komentar spontan Hasymi terhadap peristiwa atau hiruk-pikuk politik tertentu, tampaknya tak sekuat esai-esai personal itu. Ini tentu bukan sesuatu yang aneh, relevansi komentar politik biasanya memang tak akan sepanjang umur dan daya ingat, juga daya ungkap, sebuah puisi, sebuah esai personal, sebuah film ataupun novel yang indah.**
Sudirman H Nasir Melbourne, musim dingin, 2006
  | curaaaaaaaaaang....nerbitin buku nggak bilang-bilang!! btw, selamat ya bang.....bisa beli dimana???? |
 | sekarang bukunya dah terbit belum. pengeeen ikutan baca dong |
 | kenapa sih nerbitinnya lama bener mas? kan naskah dah jadi, komrntar dah lengkap. Nunggu apa lagi, keburu pengen ngebaca nih, dah kangen ama tulisan tulisan mas hasymi. Cepetan dong.....
|
| |